|
Ditulis Oleh: Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah -rahimahulloh-
|
 Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman mengisahkan Iblis -musuh-Nya- ketika Dia bertanya tentang alasannya tidak mau bersujud kepada Adam, lalu Iblis menjawab bahwa ia lebih baik daripada Adam, lalu Allah mengeluarkannya dari surga dan Iblis memohon untuk diberi tempo/waktu hingga hari kiamat. Maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- pun memberikan tempo tersebut kepadanya. Setelah itu, Iblis berkata, seperti tercantum dalam Al Quran: "Karena Engkau telah menghukumku tersesat maka aku benar-benar akan duduk menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka, belakang, kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur" (Al-A'raf [7]: 16-17) Sebagian besar ulama ahli tafsir dan ahli nahwu berkata: "Dalam ayat di atas terdapat hadzf (penghapusan) huruf, sehingga fi’il (kata kerja) tersebut menashabkan isim setelahnya.Taqdirnya adalah: laaqudanna lahum ala shirathika ' Maka aku benar-benar akan duduk menghalangi mereka di atas jalan-Mu" Mengenai penafsiran kata "shiratha al mustaqim (jalan-Mu yang lurus)", Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata: ‘Agama-Mu yang jelas." Ibnu Mas'ud -Rodliallohu Anhu- berkata: "Yaitu kitabullah." Jabir -Rodliallohu Anhu- berkata: "Yaitu Islam." Mujahid -Rahimahulloh- berkata: "Yaitu kebenaran." Semua pernyataan tersebut semakna, yaitu jalan menuju Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Khalid Abdurrahman Al Ikk
|
 Setiap orang tua punya keinginan sama dan harapan serupa. Ingin anak kita shalih. Berharap anak kita berbakti pada orang tua. Tapi sadarkah kita? Keshalihan dan ketakwaan kita sendiri selaku orang tua adalah modal utama untuk meraihnya. Jadi lucu sekali, kita berharap anak menjadi shalih dan bertakwa, sementara kita berkubang dalam maksiat dan kelalaian. Keshalihan jiwa dan perilaku orang tua mempunyai andil besar dalam membentuk keshalihan anak. Bahkan akan membawa kebaikan bagi anak di dunia dan akhirat. Kebaikan itu bisa menjadi berkah dan balasan atas amal-amal shalih kita. Misalnya berupa keshalihan, perlindungan, keluasan rezeki dan kesehatan yang dikaruniakan kepada sang anak. Tentu kita ingat kisah yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi. Alkisah, Nabi Musa bersama Khidr alaihissalam melewati sebuah perkampungan. Keduanya meminta penduduknya agar menyambut dan menjamu mereka berdua. Namun penduduk menolak. Selanjutnya Nabi Musa dan Khidr melihat bangunan yang hampir roboh. Tiba-tiba Nabi Khidr memperbaiki dinding tersebut hingga tegak kembali. Maka Nabi Musa berkata, "Jlka engkau berkehendak, tentu engkau bisa mengambil upah atasnya." (QS. Al-Kahfi: 77) Maka jawaban Nabi Khidr atas pertanyaan itu adalah: "Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan stmpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu." (QS.A1-Kahfi:82) Demikianlah, keshalihan seorang hamba akan mendatangkan rahmat Allah bagi anak keturunannya. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah -rahimahullah-
|
 Sesungguhnya tidaklah tersamar bagi setiap orang yang masih berhati bersih dan berakal sehat, bahwa Sunnah Nabawiyyah memiliki kedudukan yang sangat agung, Salah satu landasan berhujjah yang teramat kokoh sebagaimana Al-Qur'anul Karim. Sunnah Nabawiyyah merupakan penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur'an dan penjelasnya; menerangkan perkara-perkara yang samar, menyebutkan rincian atas hal-hal yang masih global, dan memberikan batas-batas tertentu dari masalah-masalah yang bermakna mutlak. Dan dalam Al Quran sendiri disebutkan bahwa Sunnah Nabawiyyah wajib untuk diikuti. Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." [Qs. Al Maidah: 92] Allah Azza Wa Jalla berfirman, diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." [Qs. Al Hasyr: 7] Allah Azza Wa Jalla telah menurunkan 'Adz-Dzikr'- yaitu Al Kitab dan As-Sunnah dan Allah menjamin akan menjaganya dengan penjagaan yang sempurna sesuai dengan kesempurnaan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Mengawasi atas segala sesuatu. Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." [Qs. Al Hijr: 9] |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -rahimahulloh-
|
 Allah menurunkan Al Qur’an kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas." (Asy-Syu'ara: 192-195). Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- menyampaikan al-Qur'an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya, “ Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44] “ Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64] Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh- berkata dalam menafsirkan ayat ini "Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah". |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Prof Dr Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al Badr
|
 Sudah dimaklumi bersama tentang ketinggian dan keluhuran iman. Iman merupakan tugas yang paling penting dan kewajiban yang paling utama, paling agung dan paling mulia. Semua kebaikan di dunia dan di akhirat tergantung pada keberadaan iman, kebenaran dan keselamatannya. Berapa banyak faedah dan buah yang dihasilkan oleh keimanan ini, kelezatan, makanan dan kebaikannya yang terus menerus mengalir. Oleh karena itulah manusia bersungguh-sungguh menggapainya dan berlomba-lomba meraih keimanan yang hakiki dan sempurna. Sebab, seorang mu'min yang mendapat taufik, perhatiannya terhadap masalah keimanan pasti lebih besar dari perhatiannya terhadap masalah-masalah yang lain. Maka dari itu kaum salaf, generasi awal umat ini, generasi yang paling baik dan paling terdepan sangat peduli terhadap masalah-masalah keimanan ini. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelum 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikut > Akhir >>
|
| Hasil 26 - 30 dari 1137 |