Paket CD Belajar Dasar Bahasa Arab
Ditulis Oleh: Forsiba AT-TARBIYAH   
Lompat Ke
Paket CD Belajar Dasar Bahasa Arab
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4


  Sesungguhnya Ilmu syariat Islam memiliki banyak cabang dan bagian dan semuanya memiliki hubungan erat dengan bahasa Arab. Dengan demikian, bahasa arab adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari agama ini.

Bahasa Arab dan al-Qur’an
     Tidak diragukan lagi bahwa  bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Hal itu telah dinyatakan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  dalam  beberapa ayatnya, di antaranya yaitu surat an-Nahl ayat 103, yang artinya :
“ Dan sesungguhnya Kami mengetahui   bahwa  mereka   berkata,  "Sesungguhnya al-Qur’an itu di¬ajarkan oleh seorang  manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan  (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam ( non arab),  sedang al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang." (QS an Nahl: 103)
     Selain itu ada pula ayat-ayat lain  yang  menjelaskan  tentang bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab, yaitu surat asy-Syu'ro ayat 195, Fushshilat ayat 44, Yusuf ayat 2, Thoha ayat 113, az-Zumar ayat 28, Fushshilat ayat 3, asy-Syuro ayat 7, dan al-Ahqoof ayat 12.
Dari ayat-ayat di atas dapat diketahui   bahwa di antara keistimewaan bahasa Arab adalah terpilihnya sebagai bahasa al-Qur'an yang menjadi mukjizat yang kekal sampai hari kiamat dan dibaca oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.
 
Tafsir suatu ayat tidak dapat diketahui kecuali dengan memahami bahasa Arab
     Mengingat bahwa bahasa al Qur'an adalah bahasa Arab, maka makna dan tafsirnya pun tidak dapat diketahui melainkan harus didasari oleh pemahaman yang mendalam terhadap bahasa arab.Para ulama telah mengungkapkan tentang pentingnya bahasa Arab dalam menafsirkan dan  memahami   al-Qur'an.
Di antaranya adalah Imam Malik bin Anas -rahimahulloh- , beliau berkata:
"Tidaklah didatangkan seseorang yang tidak mengetahui bahasa Arab lalu ia menafsirkan Kitabulloh (al-Quran), melainkan ia akan aku jadikan sebagai hukuman."
 [ (Al-Burhan fii 'Uluumil Quran, az-Zarkasyi, 11/160 dan beliau menisbatkannya kepada Syu'abil Iman, karya Imam al-Baihaqi.)
     Bahkan sebagian ulama seperti Imam asy-Syathibi -rahimahulloh- telah  menjelaskan bahwa setiap makna yang terambil dan bersumber dari al-Qur'an semuanya pasti sesuai dengan bahasa Arab. Beliau menyatakan, " semua makna yang  di-istimbat-kan   (diambil hukumnya) dari al-Quran, akan tetapi tidak sejalan dengan bahasa Arab, maka makna tersebut sama sekali tidak termasuk di antara ilmu-ilmu al-Quran, bukan termasuk makna yang terambil darinya   dan   tidak  pula   dapat diambil faedahnya. Barangsiapa yang mengaku-aku akan hal itu, maka ia telah batil dalam pengakuannya itu."   (Al-Muwafaqoot,Imam Syathibi IV/224-225]

Bahasa Arab dan Hadits Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam-

      Dalam  kitab  Jaamiul   Ushul fii Ahaaditsir Rosul, Imam Ibnul Atsir -rahimahulloh-  telah menjelaskan bahwa dasar untuk dapat  mengetahui   dan  memahami hadits Rosululloh adalah dengan menguasai bahasa Arab.  Beliau mengatakan, "Mengetahui bahasa Arab dan i'rob-nya adalah dasar untuk dapat  mengerti  hadits, karena syariat yang suci ini datang dengan menggunakan  bahasa Arab." (lihat : Jaami'ul Ushul fii Ahaaditsir Rosul, 1/37)

Kejahilan terhadap ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dapat menjadikan orang ber-dusta atas nama Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam-
    Apabila seseorang tidak memahami nahwu (ilmu tata bahasa Arab),  maka dia akan banyak mengucapkan hadits Rosululloh dengan salah,  ditinjau dari susunan tata bahasa Arab, padahal hadits dari Rosululloh  tidak ada yang salah susunannya.
Imam al-Ashma'i -rahimahulloh- berkata:
"Sesunggunya   perkara yang paling aku takutkan  terhadap penuntut ilmu adalah apabila ia tidak mengerti nahwu maka ia akan  termasuk  ke  dalam  Sabda  Nabi "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia memersiapkan tempat duduknya dineraka." "
Hal itu karena beliau Rosululloh – tidak pernah terjatuh ke dalam  lahn (lahn yakni kesalahan dalam berbahasa Arab), beliau tidak pernah ber-lahn meskipun dalam satu hadits saja.kapan saja engkau meriwayatkan dari beliau  dan engkau lahn  (salah  dalam  bahasa  Arab)   didalamnya,  maka engkau telah berdusta atas nama beliau." [ lihat : Roudhotul 'Uqolaa', Ibnu Hibban al-Busti, hal. 175, lihat juga Irsyaadul Ariib atau Mu'jamul  Udaba ', Yaquut al-Hamawi, I/ 91)
  Imam  ash-Shon'ani  -rahimahulloh-  mengomentari pernyataan al-Ashma'i -rahimahulloh- ini  dengan mengatakan, "Al-Ashma'i mengatakan, "Aku takutkan" dan beliau  tidak memastikannya, karena  barangsiapa  yang  tidak  mengetahui bahasa Arab apabila ia terjatuh ke dalam lahn, maka ia  tidak termasuk orang yang sengaja  berdusta (atas nama Rosululloh)." [lihat :Taudhiihul Afkaar li Ma'aani Tanqiihil Andhaar, 11/394)

Bahasa Arab dan Aqidah Islamiyyah

   Aqidah yang benar dan lurus  bersumber hanya Qur’an dan Hadits  Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , sedangkan keduanya menggunakan bahasa arab
Oleh karena itu, memahami bahasa arab adalah termasuk perkara yang dapat memudahkan dalam mempelajari dan memahami kitab-kitab Aqidah agar tidak menyimpang dari makna ynag ada didalam Al Quran dan As Sunnah.
Imam Suyuthi -rahimahulloh- berkata ,”Tidak diragukan lagi bahwa bahasa arab adalah termasuk bagian dari agama ini, karena ia adalah termasuk masalah yang hokum nya fardlu kifayyah, dan dengan nya akan diketahui makna lafadz-lafadz Al Qur’an dan As Sunnah.”  [lihat : Al Mundzir fii Uluumil Lughoh, II/302].

Di antara sebab kezindiqan/kesesatan  adalah  kebodohan  terhadap bahasa Arab
    Kesesatan  dalam  masalah aqidah  dapat bersumber  dari kejahilan akan bahasa Arab. Hal itu  karena  sumber dari aqidah (Islam  yaitu al-Quran dan al-Hadits,  serta  syarh (penjelasan) dari keduanya adalah menggunakan bahasa Arab.  Tatkala seseorang  salah dalam memahami ungkapan yang berkaitan dengan aqidah   tersebut, maka dapat menghasilkan sesamya keyakinan. Sebab ini telah diungkapkan oleh  para   ulama, antara lain adalah Abu Amr bin 'Alia -rahimahulloh- , beliau berkata, yang artinya, " Kebanyakan orang yang menjadi Zindiq/sesat  di Irak (pada masa itu)  adalah karena jahil/bodohnya  dengan  bahasa  Arab." [Lihat :Nuzhatul  Alibba' fi   Thobaqootil 1daba ', karya Ibnul Anbari, hal. 31)
     Ada segolongan kaum yang mengatakan tentang adanya ta'arudh (kontradiksi)  antara firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  dalam QS Fushilat: 11 : dengan firman Alloh dalam QS an-Nazi'at: 30. Maka Imam al-Azhari -rahimahulloh-  mengatakan, "Tidak ada kontradiksi antara kedua ayat ini bagi orang yang memahaminya. Segal  puji bagi Alloh. Orang-Orang mulhid (orang-orang yang terjerumus dalam kesesatan) mencela ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya, hanyalah karena bodoh-nya mereka dan salah pahamnya serta sedikitnya ilmu mereka tentang bahasa Arab."
[lihat :Aqidah al-Azhari, karya Dr. al-'Ulyani, hal. 81 1 dan beliau menjelaskan bahwa nukilan ini diambil dari Tahdziibul Lughoh, 11/234.) ]
     Dengan demikian, maka salah satu kunci untuk dapat memahami aqidah yang lurus adalah dengan memahami bahasa Arab.
 


 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

PENERBIT/PRODUSEN