| Paket CD Belajar Dasar Bahasa Arab |
| Ditulis Oleh: Forsiba AT-TARBIYAH | ||||||
Halaman 1 dari 4 Sesungguhnya Ilmu syariat Islam memiliki banyak cabang dan bagian dan semuanya memiliki hubungan erat dengan bahasa Arab. Dengan demikian, bahasa arab adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari agama ini.
Bahasa Arab dan al-Qur’an Tidak diragukan lagi bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Hal itu telah dinyatakan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dalam beberapa ayatnya, di antaranya yaitu surat an-Nahl ayat 103, yang artinya : “ Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya al-Qur’an itu di¬ajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam ( non arab), sedang al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang." (QS an Nahl: 103) Selain itu ada pula ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab, yaitu surat asy-Syu'ro ayat 195, Fushshilat ayat 44, Yusuf ayat 2, Thoha ayat 113, az-Zumar ayat 28, Fushshilat ayat 3, asy-Syuro ayat 7, dan al-Ahqoof ayat 12. Dari ayat-ayat di atas dapat diketahui bahwa di antara keistimewaan bahasa Arab adalah terpilihnya sebagai bahasa al-Qur'an yang menjadi mukjizat yang kekal sampai hari kiamat dan dibaca oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Tafsir suatu ayat tidak dapat diketahui kecuali dengan memahami bahasa Arab Mengingat bahwa bahasa al Qur'an adalah bahasa Arab, maka makna dan tafsirnya pun tidak dapat diketahui melainkan harus didasari oleh pemahaman yang mendalam terhadap bahasa arab.Para ulama telah mengungkapkan tentang pentingnya bahasa Arab dalam menafsirkan dan memahami al-Qur'an. Di antaranya adalah Imam Malik bin Anas -rahimahulloh- , beliau berkata: "Tidaklah didatangkan seseorang yang tidak mengetahui bahasa Arab lalu ia menafsirkan Kitabulloh (al-Quran), melainkan ia akan aku jadikan sebagai hukuman." [ (Al-Burhan fii 'Uluumil Quran, az-Zarkasyi, 11/160 dan beliau menisbatkannya kepada Syu'abil Iman, karya Imam al-Baihaqi.) Bahkan sebagian ulama seperti Imam asy-Syathibi -rahimahulloh- telah menjelaskan bahwa setiap makna yang terambil dan bersumber dari al-Qur'an semuanya pasti sesuai dengan bahasa Arab. Beliau menyatakan, " semua makna yang di-istimbat-kan (diambil hukumnya) dari al-Quran, akan tetapi tidak sejalan dengan bahasa Arab, maka makna tersebut sama sekali tidak termasuk di antara ilmu-ilmu al-Quran, bukan termasuk makna yang terambil darinya dan tidak pula dapat diambil faedahnya. Barangsiapa yang mengaku-aku akan hal itu, maka ia telah batil dalam pengakuannya itu." (Al-Muwafaqoot,Imam Syathibi IV/224-225] Bahasa Arab dan Hadits Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- Dalam kitab Jaamiul Ushul fii Ahaaditsir Rosul, Imam Ibnul Atsir -rahimahulloh- telah menjelaskan bahwa dasar untuk dapat mengetahui dan memahami hadits Rosululloh adalah dengan menguasai bahasa Arab. Beliau mengatakan, "Mengetahui bahasa Arab dan i'rob-nya adalah dasar untuk dapat mengerti hadits, karena syariat yang suci ini datang dengan menggunakan bahasa Arab." (lihat : Jaami'ul Ushul fii Ahaaditsir Rosul, 1/37) Kejahilan terhadap ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dapat menjadikan orang ber-dusta atas nama Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- Apabila seseorang tidak memahami nahwu (ilmu tata bahasa Arab), maka dia akan banyak mengucapkan hadits Rosululloh dengan salah, ditinjau dari susunan tata bahasa Arab, padahal hadits dari Rosululloh tidak ada yang salah susunannya. Imam al-Ashma'i -rahimahulloh- berkata: "Sesunggunya perkara yang paling aku takutkan terhadap penuntut ilmu adalah apabila ia tidak mengerti nahwu maka ia akan termasuk ke dalam Sabda Nabi "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia memersiapkan tempat duduknya dineraka." " Hal itu karena beliau Rosululloh – tidak pernah terjatuh ke dalam lahn (lahn yakni kesalahan dalam berbahasa Arab), beliau tidak pernah ber-lahn meskipun dalam satu hadits saja.kapan saja engkau meriwayatkan dari beliau dan engkau lahn (salah dalam bahasa Arab) didalamnya, maka engkau telah berdusta atas nama beliau." [ lihat : Roudhotul 'Uqolaa', Ibnu Hibban al-Busti, hal. 175, lihat juga Irsyaadul Ariib atau Mu'jamul Udaba ', Yaquut al-Hamawi, I/ 91) Imam ash-Shon'ani -rahimahulloh- mengomentari pernyataan al-Ashma'i -rahimahulloh- ini dengan mengatakan, "Al-Ashma'i mengatakan, "Aku takutkan" dan beliau tidak memastikannya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui bahasa Arab apabila ia terjatuh ke dalam lahn, maka ia tidak termasuk orang yang sengaja berdusta (atas nama Rosululloh)." [lihat :Taudhiihul Afkaar li Ma'aani Tanqiihil Andhaar, 11/394) Bahasa Arab dan Aqidah Islamiyyah Aqidah yang benar dan lurus bersumber hanya Qur’an dan Hadits Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , sedangkan keduanya menggunakan bahasa arab Oleh karena itu, memahami bahasa arab adalah termasuk perkara yang dapat memudahkan dalam mempelajari dan memahami kitab-kitab Aqidah agar tidak menyimpang dari makna ynag ada didalam Al Quran dan As Sunnah. Imam Suyuthi -rahimahulloh- berkata ,”Tidak diragukan lagi bahwa bahasa arab adalah termasuk bagian dari agama ini, karena ia adalah termasuk masalah yang hokum nya fardlu kifayyah, dan dengan nya akan diketahui makna lafadz-lafadz Al Qur’an dan As Sunnah.” [lihat : Al Mundzir fii Uluumil Lughoh, II/302]. Di antara sebab kezindiqan/kesesatan adalah kebodohan terhadap bahasa Arab Kesesatan dalam masalah aqidah dapat bersumber dari kejahilan akan bahasa Arab. Hal itu karena sumber dari aqidah (Islam yaitu al-Quran dan al-Hadits, serta syarh (penjelasan) dari keduanya adalah menggunakan bahasa Arab. Tatkala seseorang salah dalam memahami ungkapan yang berkaitan dengan aqidah tersebut, maka dapat menghasilkan sesamya keyakinan. Sebab ini telah diungkapkan oleh para ulama, antara lain adalah Abu Amr bin 'Alia -rahimahulloh- , beliau berkata, yang artinya, " Kebanyakan orang yang menjadi Zindiq/sesat di Irak (pada masa itu) adalah karena jahil/bodohnya dengan bahasa Arab." [Lihat :Nuzhatul Alibba' fi Thobaqootil 1daba ', karya Ibnul Anbari, hal. 31) Ada segolongan kaum yang mengatakan tentang adanya ta'arudh (kontradiksi) antara firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dalam QS Fushilat: 11 : dengan firman Alloh dalam QS an-Nazi'at: 30. Maka Imam al-Azhari -rahimahulloh- mengatakan, "Tidak ada kontradiksi antara kedua ayat ini bagi orang yang memahaminya. Segal puji bagi Alloh. Orang-Orang mulhid (orang-orang yang terjerumus dalam kesesatan) mencela ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya, hanyalah karena bodoh-nya mereka dan salah pahamnya serta sedikitnya ilmu mereka tentang bahasa Arab." [lihat :Aqidah al-Azhari, karya Dr. al-'Ulyani, hal. 81 1 dan beliau menjelaskan bahwa nukilan ini diambil dari Tahdziibul Lughoh, 11/234.) ] Dengan demikian, maka salah satu kunci untuk dapat memahami aqidah yang lurus adalah dengan memahami bahasa Arab. |
||||||
| < Sebelum | Berikut > |
|---|